Friday, April 11, 2014

Hadiah di awal April

Alhamdulillah…
Alhamdulillah…
Alhamdulillah…

Di awal bulan April ini mendapat rejeki berupa hijab karena tulisan saya terpilih menjadi salah satu pemenang di GiveAway (GA) yang mengangkat tema “I Love Islam” yang diselenggarakan oleh Anyin/Ninda dan mba’ Monika.

Ini cerita saya : aku dan cintaku

Ketika tahu bahwa Anyin mengadakan GA dengan tema “I Love Islam”, saya langsung menuliskan pengalaman saya di atas. Langsung, mengalir begitu saja. Saya tak langsung mempublishnya, ya… ya… koneksi internet tak bersahabat saat itu :D

Kemudian saat akhirnya saya dapat mempublishkan cerita saya dan mendaftarkannya, saya sempat nggak yakin dengan tulisan itu. Terlebih saat itu saya adalah pendaftar pertama, saya sempat berpikir apa saya nggak kecepetan ya. Huhuhu, dan karena nggak yakin menang itu bahkan sebelum membaca tulisan peserta lain (lah belum ada yang daftar) saya sempat nodong Anyin, “Dek ada hadiah buat pendaftar pertama nggak?” Hahahaha… ngok banget ya… ngarep. Hihihi

Sebenarnya pada tanggal 1 April saya berniat mempublish 1 tulisan lagi yang akan saya ikutkan dalam GA tersebut, tapi karena satu dan lain hal saya kelupaan. Duh! Sebenarnya saya juga bilang ke Anyin perihal tulisan yang kelupaan itu, dan niatnya juga akan saya publish barengan dengan hijab yang saya dapatkan sebagai hadiah.

Tapi, saya berubah pikiran. Mungkin cerita saya yang satu itu akan saya publish di lain waktu. Saat ini saya hanya ingin menunjukkan dulu hijab yang saya dapatkan.

Saya suka banget dengan bahannya, warnanya, juga modelnya. Hehehe.

Saya nggak kenal dengan nama-nama kain, sedangkan untuk modelnya saya kenalnya cuman : bergo, pasmina dan segiempat. Ternyata walau saya sudah tahu akan dapat hijab bergo, ternyata bergo yang satu ini berbeda dengan bergo yang biasanya saya gunakan. Bergo yang saya dapatkan ini pada bagian dagu tidak terdapat jahitan, jadi saya tetap harus menggunakan peniti saat memakainya. Ribet? Ah, karena sudah biasa pakai yang hijab segiempat jadi nggak terlalu ribet lah ya…

Dan asyiknya lagi hijab yang saya dapatkan ini bisa dibolak balik. Saya pilih warna cream-hijau. Jadi satu sisi ada yang dominan cream dan di sisi lain dominan hijau. Bahannya, walau tebal dan nggak nerawang (ini yang penting) tapi juga nggak bikin panas, adem malah. Pokoknya suka deh.

Jadi pengen beli sendiri deh, eh tapi nabung dulu soalnya saya lagi pengen beli oven nih biar makin bisa berkreasi untuk buat cemilan anak-anak. Ada GA berhadiah oven? #curcol hahaha

Tapi kalau kamu juga pengen beli bisa loh tengok di : Hijab Alila Semarang.




Btw, terima kasih buat Anyin dan mba' Monika yang sudah mengadakan GA dengan tema I Love Islam, karena selain saya bisa berbagi pengalaman saya juga mendapat banyak-banyak pelajaran dari pengalaman teman-teman lain yang juga mengikuti GA ini. Juga terima kasih banyak sudah memilih cerita saya. ^^,

Monday, March 17, 2014

Baca dan nonton

Saya suka membaca dan juga suka nonton film.

Dulu saat masih sekolah saya lebih banyak membaca daripada nonton film. Sejak dari SD saya sudah suka membaca, walau mungkin bacaan saya sebatas tabloid Bobo dan Donald Bebek. Papi saya dulu memperbolehkan saya langganan Bobo yang difasilitasi oleh sekolah, sedangkan Donal Bebek saya selalu dibelikan oleh kakak-kakak sepupu.

Waktu SD sampai dengan SMA sekolah saya seminggu sekali pasti ada jam pelajaran yang mengharuskan muridnya ke perpustakaan. Jadilah waktu sekolah walau belum memiliki koleksi bacaan tetapi tak pernah kehabisan bahan baca.

Memasuki masa kuliah, kebiasaan baca mulai berkurang. Perpustakaan kampus tentu beda dengan perpustakaan sekolah, sepertinya tidak menyediakan novel ya... hehe... itu salah satu alasannya. Saat kuliahlah saya lebih banyak nonton film daripada baca buku. Tapi juga saat kuliah itulah saya mulai koleksi buku, karena saya mulai bekerja sebagai guru les.

Jelang akhir masa kuliah bisa dibilang kegiatan baca dan nonton nyaris seimbang. Dan itu terus berlanjut sampai saya menikah. Kemudian saat anak pertama saya lahir nah, saat itulah saya mulai lebih banyak membaca daripada nonton film.

Hingga akhir-akhir ini, saat anak-anak mulai besar. Tidur malam mulai teratur, nah saat itulah saya bisa meluangkan waktu untuk nonton film. Karena saya tipenya orang yang nggak suka kalau nonton film kepotong-potong, kecuali film serial ya. Hehe

Kamu? Suka baca atau nonton?

Sunday, March 16, 2014

Mengenal lapar.

Beberapa waktu lalu, seorang ibu bertanya pada saya tentang pola makan anak-anak saya.

Semuanya berawal karena saya yang sering memesan buah pada ibu penjual sayuran yang lewat depan rumah, dan itu memang lebih sering saya lakukan setelah adek mulai memasuki masa mpasi. Dan tetangga saya itu cucunya bisa dibilang susah sekali kalau makan.

Syukur alhamdullilah, mas & adek bisa dibilang nggak ada masalah untuk urusan makan. Tapi apa sama sekali nggak ada masalah? Ooooh, tentu tidak! Hehe. Pasti ada masanya ketika anak-anak mulai malas kalau disuruh makan.

Lantas, bagaimana pola makan anak-anak?

Kalau mau dirunut, semua berawal sejak mereka bayi. Saya banyak membaca bahwa bayi ASI dan mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama maka saat memasuki tahap makan akan lebih mudah. Ini bisa dikatakan awal mulanya, alhamdullilah kedua anak saya mendapatkan haknya memperoleh ASI eksklusif itu. Tapi, pastinya tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif makannya gampang looooh.

Kemudian ketika memasuki tahap MPASI, saya memberikan makanan yang saya buat sendiri dan sebelum 1 tahun anak-anak tidak mengenal gula dan garam. Kalaupun akhirnya makan biskuit itu menunggu usianya sekitar 8-9 bulan dan itu diberikan secara terbatas. Jadi baik mas dan adek nggak mengenal bubur susu instan. Sebelum 1 tahun mereka makan sayur/ikan yang direbus kemudian dilumatkan. Repot? Pastinya, tapi kan mending repot sekarang toh daripada nanti.

Lalu setelah 1 tahun, alhamdullilah mas langsung bisa makan masakan seperti yang saya dan suami makan. Tapi tentu masaknya tidak jadi satu, karena walau sudah seperti makanan keluarga tetapi pemberian gula dan garam tetap masih sedikit dibatasi. Jadi ya, tetap masaknya 2 kali walau menunya sama. Paling yang masaknya cukup sekali ya seperti sup, soto, rawon, opor, kare, ya yang semacam itu lah. Tapi kalau tumisan biasanya masaknya terpisah. Dan alhamdullilah hampir semua sayur mas suka.

Tapi kalau masih tiba-tiba malas makan harus dicari tahu dulu apa sebabnya. Bisa karena jenuh sama masakannya, atau bisa juga karena dia terlalu banyak jajan.

Jenuh, bisa jadi karena saya selama beberapa hari masaknya berturut-turut ditumis, atau sering bersantan. Nah berarti waktunya ganti masakan. Terkadang juga karena dia lagi malas makan sayur, jadi kadang cuman pengen makan nasi sama ikan doang.

Tapi kalau dia malas makan karena terlalu banyak jajan maka jalan satu-satunya adalah meniadakan semua jajanan yang ada dirumah. Entah itu disembunyikan atau mungkin dihabiskan emak bapaknya hihi. Dan acara ke warung buat beli jajan pun dihentikan. Tega? Harus tega dong, daripada keterusan akhirnya ciuman makan jajan tapi nggak mau makan nasi?

Tapi yang pasti kenali dulu kenapa anak nggak suka makan?

Kemudian ajarkan tentang rasa lapar. Yup, terkadang anak menjadi nggak suka makan karena ia nggak kenal tentang rasa lapar. Kok bisa nggak kenal? Ya karena dia nggak merasakan. Dia nggak merasakan karena terlalu banyak camilan/jajan. Biasanya anak mulai susah makan saat ia mulai mengenal jajan.