Beberapa hari lalu menyimak penuturan seorang teman tentang keleluasaan finansial antara perempuan lajang dengan perempuan yang sudah bersuami di twitland. Sampai akhirnya merambat pada perempuan yang berperan ganda, sebagai peran sebagai pekerja dan juga peran yang tak bisa dilepaskan yaitu sebagai istri dan juga ibu (kalau sudah memiliki anak).
Aku tak banyak berkomentar, hanya mengikuti saja sebagai bahan pemikiran juga, hingga ketika aku mau menutup twitter sempat menuliskan bahwa semuanya tergantung dari pilihan perempuan itu sendiri, tentang mana yang akan dia prioritaskan. Dalam kalimat tersebut mungkin sepertinya perempuan (khususnya yang bekerja) harus memilih, antara memprioritaskan keluarga atau pekerjaan. Tapi mungkin tidak seekstrim itu, karena ketika ia menikah dan akhirnya melahirkan seorang anak maka menjadi seorang istri dan ibu itu sudah bukan pilihan lagi kan? Yang menjadi pilihan adalah hal lain selain itu.
Jadi bukan berarti perempuan yang bekerja tidak memprioritaskan keluarganya, kan? Ya hanya saja ketika ia bekerja, ia benar-benar harus profesional dengan mengesampingkan hal lain diluar pekerjaannya. Karena seorang ibu yang bekerja pasti memiliki alasannya sendiri, mungkin dengan bekerja ia ingin nantinya apa yang diberikan untuk anaknya adalah yang terbaik.
Nah, sampai disitu kemudian ada sesuatu yang mengganggu aku. Hal itu karena ada seseorang yang mengatakan "kamu sih nggak kerja, jadi nggak tau capeknya jadi supermom... yang harus bekerja tapi juga harus ngurus suami dan anak juga!" #JLEB!!
Penuturan itu keluar dari seseorang ketika aku coba menyemangati dia untuk memompa ASInya, supaya anaknya nggak sampe kenal yang namanya susu formula, setidaknya sampai 6bulan pertama. Waktu itu aku langsung terdiam, mungkin caraku menyemangatinya salah. Itu aja pikiranku, walau dalam hati juga akhirnya aku memutuskan untuk nggak akan lagi ngomongin masalah ASI atau pemberian terbaik untuk anak dengan dia. Karena sepertinya pemikiran aku dan dia berbeda, jadi mending menghindari perdebatan yang sepertinya tak akan ada selesainya.
Hanya saja aku jadi mikir, apakah bekerja akhirnya bisa dijadikan alasan untuk seseorang ibu (istilah kasarnya) mencabut hak anak untuk memperoleh ASI eksklusif? Katanya ia bekerja untuk agar nantinya mampu memberi yang terbaik untuk anaknya, lah tetapi ini dari kecil aja udah nggak bisa ngasih yang terbaik... kan jadinya aneh... Karena terbaik kan nggak semua diukur dari materi. >,<
Aku sebenernya salut dengan para supermom yang selain menjadi ibu mereka juga bekerja (entah itu karena suatu keharusan atau memang pilihan mereka sendiri), terlebih karena aku sendiri memiliki banyak teman yang bekerja dan mau bersusah payah memerah ASInya pada malam hari ketika anak mereka sudah tertidur atau pada saat mereka istirahat siang dari bekerja agar kebutuhan ASI anaknya tetap tercukupi. Membeli semua perlengkapan tempur untuk memerah yang ternyata nggak murah, mencari cara terbaik agar ASI tetap bisa mengalir deras saat diperah... ah... pokoknya ribet dech, aku aja yang baru mulai memerah saat Baby Zi mulai MPASI untuk kebutuhan campuran MPASInya aja ngerasain ribetnya.
Tapi ketika seseorang mengatas namakankerjaan untuk kemudian menjadikannya alasan meninggalkan kewajibannya yang lain... ah... rasanya gimanaaaaa gitu... >,<
Ya.... sudah lah ya... >,< kembali lagi aja ke quotes "my baby my rules!!" :D
![]() |
Sebegitu seriusnya kalo ama buku ^.^ |
oh topik utamanya sindiran dari ibu pekerja kepada ibu di rumah :D :D
ReplyDeletesemuanya supermom kok, yang penting anak tetap nomor satu ^^
aku malah ga mau istriku kerja
ReplyDeleteurus anak dan rumah saja dah repot kok
Dulu aku kaya kamu mbak. Nyemangatin temen buat ksi asiX. Getol kampanye no sufor. Cuma abis gitu aku sadar sendiri, masing2 ibu punya 'pendapat' masing2.
ReplyDeleteGa adil kalo aku menjudge macam2.
Jadi meski miris liat bayi2 dksi sufor, tapi ya gimana lagi.
Kecuali kalo orang itu meminta pendapat atau minta dorongan semangat.insyaallah akan aku bantu semampuku. Tapi kalo nggak ya wes. Wong itu ya anakmu dewe :p
Semangat ya buat asi. Dina sampe 2y10m loh. Hahaha. Lepas sendiri. Dan alhamdulillah jarang sakit.
Temenku banyak yg kerja kantoran, tetep bisa kasih ASI kok.
ReplyDeletePada jam-jam tertentu, dia ke ruangan untuk pompa ASInya, trus disimpen di kulkas kantor, dan dibawa pulang. Jadi baby di rumah tetep bisa dikasih ASI.
Iya itu bener kata Mbak, semua tergantung prioritas.
Yang jelas pemikiranku sih jangan sampai anak dikorbankan karena masa depan anak juga kan masa depan sang ibu yaa...
Porting yang menarik, dan sepertinya selalu update dengan realitas perkembangan yang terjadi di masyarakat. Persoalan peran dan fungsi serang istri memang mengundang pro dan kontra. Dan saya pikir, tidak lantas kemudian harus diperbandingkan, mana yang lebih uatama antara istri yang bekerja dengan istri yang hanya ibu rumah tangga. Hehe..
ReplyDeleteSalam blogger, Mbak! lama tak berkunjung.
^__^ lama ga kesini ..ada nuansa berbeda....ada kicau-kicau anak kecil....
ReplyDeleteselamat dah punya pelengkap .....jantung hati...
salam ^_-^
menurut saya sih kenapa tidak lebih baik jika, suami kerja dan istri di rumah mengurus rumah tangga dan berdoa agar sang suami mendapat rezeki yang melimpah..
ReplyDeleteatau ibu2 sekarang kan malah bisa kerja dirumah..
utuk utuk zian si tukang bobo :3
ReplyDeletesupermom..saya rasa semua ibu itu supermom kok mbak..hehe..
ReplyDeleteJadi bukan berarti perempuan yang bekerja tidak memprioritaskan keluarganya, kan? Ya hanya saja ketika ia bekerja, ia benar-benar harus profesional dengan mengesampingkan hal lain diluar pekerjaannya.
ReplyDeleteya bener sih. Tapi, semampu-mampunya wanita membagi waktunya, tetep fitrahnya perempuan itu kan di rumah toh?
pengen nyubiiiit.... :3
ReplyDeleteApapun itu pilihannya..semoga itu yang terbaik
ReplyDelete