Hari ini tanggal 25 April, jadi harusnya kemaren harusnya giveaway "kita berbagi" ditutup. Alhamdulillah yang ikut berbagi ada sekitar 15 sahabat narablog. Jadi sekitar ada 15 buku yang jadi masukan untuk dibaca, walau mungkin ada yang mereview buku yang sama. Jadi lumayan kan, kalo ke gramed nggak perlu ngiteri rak rak buku, cukup ke kompi yang disediakan oleh gramedia terus ketik judulnya, menuju rak, langsung beli :D
Tapiiiiiiii, karena satu dan lain hal... akhirnya giveaway "kita berbagi" oleh panitia diperpanjang. Alasan utama karena nie panitia males :)) #iyeeeee, Inge ndiri kok panitianye :p
Ada salah satu sahabat yang kasih pesan di inbox FB, "eh Nge km ngadain giveaway toh. Kok aku nggak tau??" #idiiiiiiiih kemane aje buuuuuu dan tidak hanya itu isi inboxnya, "kamu sie Nge, nggak woro-woro, jarang BW, jarang update!!!" #jegleeeeeer hikz... kena dech :p
Yah, tapi mau gimana lagi, emang itu sie kenyataannya. Dulu BW semua rumah disatronin, kadang ninggalin comment kadang cuman sampah :D dulu update hampir tiap hari, eh sekarang seminggu sekali mah udah untung banget kaya'nya :)
Dan sebuah kenyataan juga kalau didunia blog berlaku "kamu mengunjungi maka kamu akan dikunjungi" he he... walau nggak berlaku untuk semua sie, ada kok yang tetap berkunjung walau aku jarang berkunjung. :)
Jadi, inti postingan kali ini selain mengakui bahwa YA, sekarang inge pemalas sangat he he... #pada senyum bahagia tuch, juga sekaligus pemberitahuan kalau acara GiveAway "Kita Berbagi" diperpanjang sampai tanggal 8 Mei 2011
Untuk yang belum tau syaratnya bisa dibaca di :http://cyberdreambox.blogspot.com/2011/04/kita-berbagi.html
Oia, kemaren jalan2 ke sahabat yang sudah setor tulisan dan mendapati pertanyaan sahabat lainnya di kotak komentar : apa harus buku yang sering dibaca?
Jawabnya : Nggak, tapi buku yang paling kamu suka... karena kadang buku yang hanya sekali dibaca tetapi isinya disuka bisa melekat tuch diotak :D
Dan sahabat boleh menyertakan review yang sudah pernah dibuat, tp harap diposting ulang (entah di copas, atau ditulis dalam bentuk lain) dan ditambahkan syarat-syarat yang diminta :)
So.... selamat berbagi ^^
Monday, April 25, 2011
Thursday, April 21, 2011
Fiksi.
Beberapa waktu belakangan, setelah mencetak sebuah buku dengan nama aku sebagai pengarang... entah kenapa justru kegiatan tulis menulis ku sedikit berkurang, dan lebih sering memang baca buku. Liat aja beberapa bulan terakhir, jumlah postingan seperti menurun dengan drastis -_-"
Tapi bukan berarti aku memutuskan berhenti menulis, oh tentu tidak. Karena membaca dan menulis seperti satu hobi yang nggak mungkin lepas dari aku, kecuali kemampuanku untuk itu mau tak mau diambil yang punya yah, semoga tidak he he...
Dan tentang menulis cerpen, aku masih sesekali menulis tapi entah kenapa kebanyakan seperti tidak selesai >,< tapi akhir-akhir ini alhamdulillah udah mulai sering nulis sampai rampung... sapa tau bisa jadi buku kedua yah ^^
Dan ini salah satu fiksi yang rampung itu, idenya dari sebuah percakapan dan lagu yang lagi sering aku dengarkan. Belum ada judul, ada ide sahabat?
“Adakah cinta yang benar-benar tulus?”
Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut seorang teman yang sejak ia datang kerumah dan memasuki kamarku, langsung tidur disampingku, dan kemudian hanya diam. Aku yang sudah biasa dengan kelakuannya ini akhirnya hanya melanjutkan aktivitas membacaku. Dan setelah dia bertanya dan kembali hanya diam, aku cuman bisa bengong, dan menurunkan buku yang sedang aku baca.
“Kamu sudah baca bagian ‘Malaikat Juga Tahu’ kan?”
Yah waktu itu sedang membaca buku Dewi “Dee” Lestari, Rectoverso, untuk kesekian kalinya. “Sudah, tapi aku lebih suka yang ‘Hanya Isyarat’ dan ‘Firasat’, walau secara keseluruhan memang menarik. Lantas apa hubungannya dengan pertanyaanmu tadi?”
“Ya, dari berbagai cerita entah itu film, buku, atau sekedar cerita pasti cinta yang benar-benar tulus sepertinya datang dari orang yang kita anggap tidak sempurna.”
“Maksud kamu?”
“Hmmm. Kamu pernah nonton film I am Sam, kan? Dan pasti juga masih ingat cerita ‘Malaikat Juga Tahu’ dibuku itu.” katanya sambil memandang buku yang sedang aku pegang, sebelum aku sempat berkomentar ia berkata lagi, “Dua kisah yang sedikit berbeda, tetapi punya makna yang serupa. Mereka yang kita anggap tidak ‘sempurna’, bisa memiliki ketulusan cinta yang begitu dalam, yang biasa kita cari pada orang yang ‘sempurna’, dan ketika kita mencari pada orang yang ‘sempurna’ sering kali yang kita dapati adalah kekecewaan.”
Ah, aku mengerti sekarang. Gadis dihadapanku ini memang sedang mengalami kekecewaan, ditinggalkan oleh kekasihnya yang telah memberi dia harapan begitu besar. Tetapi ternyata ujung perjalanan mereka, hanya ada torehan luka yang dalam bagi dia. Sudah hampir satu tahun, walau kini dia tampak lebih baik daripada awal-awal dia mengalami kekecewaan itu tapi aku tau, dia masih belum benar-benar bisa melupakan apa yang ia alami. Mungkin juga ia takkan bisa melupakannya, entahlah.
“Hmmm… mungkin benar apa yang kamu bilang, tapi bukan berarti kita akan selalu menemui kekecewaan seperti itu. Kadang mungkin orang yang ‘sempurna’ lebih mampu menutupi betapa tulus cinta yang ia punya.” Sebenarnya aku setuju dengan apa yang diucapkannya tetapi aku juga tak ingin ia begitu pesimis memandang cinta.
Kami kembali diam, seperti sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Entah apa yang ada dipikirannya, sedang aku sedikit berpikir bagaimana memberi ia optimisme tentang cinta, sedang kadang aku sendiripun merasa pesimis tentang mencari ketulusan itu. Apakah ada orang yang akan memberikan cintanya padaku, sebesar cinta yang aku berikan? Sedang kata orang, cinta yang tulus tidaklah mengharapkan balasan. Benarkah aku sendiri tak memiliki ketulusan cinta?
“Kamu pernah dengar? Orang buta kadang lebih bisa melihat segalanya daripada mereka yang bisa melihat. Karena mereka melihat dengan hati. Orang yang tuli kadang lebih bisa menerima segala hal dengan mudah, karena mereka bisa menyaring apa yang ingin mereka tahu tanpa harus peduli dengan omongan yang tidak baik. Orang bisu, mereka akan menjadi pendengar yang baik, dan melakukan segala hal tanpa banyak bicara dan lebih baik daripada kita yang kadang lebih banyak bicara daripada bertindak. Dan orang autis, mereka lebih memiliki ketulusan cinta walau mungkin mereka tak mampu mengungkapkannya secara terang-terangan. Apakah kita harus tidak sempurna untuk dapat menjadi lebih baik?”
Ini yang aku senang jika sedang berada didekatnya, kadang ia melontarkan pertanyaan atau pernyataan yang diluar dugaan, yang kadang tidak terpikirkan.
“Hmmm… mungkin bukan begitu bekerjanya. Mungkin itulah keistimewaan mereka. Membuat kita yang merasa ‘sempurna’ ini kembali melihat kesempurnaan kita. Benarkah kita ‘sempurna’? Kita akan menyadari bahwa tidak, kita tidak ‘sempurna’ walau kita terlihat ‘sempurna’ dibanding mereka. Itu lah istimewanya mereka, kita bisa belajar dari keistimewaan mereka.”
“Dan, tentang cinta…..” kali ini kalimatnya terasa begitu menggantung, entah ia ingin bertanya atau ingin memberikan satu lagi pernyataan.
Beberapa saat aku menunggunya melanjutkan kalimatnya, tetapi ia hanya diam.
“Tentang cinta, jika tentang cinta yang universal mungkin akan kita dapati banyak contoh cinta yang tulus. Ibu terhadap anaknya, itu satu kepastian. Tetapi tentang cinta sepasang anak manusia, aku hanya yakin, ALLAH pasti berikan kita pasangan yang akan mencintai kita dengan tulus.” Itu yang langsung terlintas dibenakku saat ia akhirnya memang hanya diam.
Aku mendengar helahan nafasnya yang panjang, sebelum akhirnya ia berucap, “Ya, dan kadang kita tak dapat melihat itu hanya karena cinta itu datang bukan dari orang yang kita inginkan, dan orang yang kita inginkan adalah orang yang telah mengecewakan kita.”
Sekali lagi aku hanya bisa terhenyak dengan kalimat terakhirnya. Karena ya, akupun pernah merasakannya. Banyak cinta yang ditawarkan, tetapi bukan itu yang dimau, hanya cinta satu orang yang aku mau, ia yang telah melukai aku tapi tak mampu menghapus rasa cintaku padanya.
Benarkah, kita terlalu sering melihat pintu yang tertutup hingga kita tak mampu melihat ada pintu lain yang terbuka untuk kita?
Tapi bukan berarti aku memutuskan berhenti menulis, oh tentu tidak. Karena membaca dan menulis seperti satu hobi yang nggak mungkin lepas dari aku, kecuali kemampuanku untuk itu mau tak mau diambil yang punya yah, semoga tidak he he...
Dan tentang menulis cerpen, aku masih sesekali menulis tapi entah kenapa kebanyakan seperti tidak selesai >,< tapi akhir-akhir ini alhamdulillah udah mulai sering nulis sampai rampung... sapa tau bisa jadi buku kedua yah ^^
Dan ini salah satu fiksi yang rampung itu, idenya dari sebuah percakapan dan lagu yang lagi sering aku dengarkan. Belum ada judul, ada ide sahabat?
*** *** *** *** *** ***
“Adakah cinta yang benar-benar tulus?”
Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut seorang teman yang sejak ia datang kerumah dan memasuki kamarku, langsung tidur disampingku, dan kemudian hanya diam. Aku yang sudah biasa dengan kelakuannya ini akhirnya hanya melanjutkan aktivitas membacaku. Dan setelah dia bertanya dan kembali hanya diam, aku cuman bisa bengong, dan menurunkan buku yang sedang aku baca.
“Kamu sudah baca bagian ‘Malaikat Juga Tahu’ kan?”
Yah waktu itu sedang membaca buku Dewi “Dee” Lestari, Rectoverso, untuk kesekian kalinya. “Sudah, tapi aku lebih suka yang ‘Hanya Isyarat’ dan ‘Firasat’, walau secara keseluruhan memang menarik. Lantas apa hubungannya dengan pertanyaanmu tadi?”
“Ya, dari berbagai cerita entah itu film, buku, atau sekedar cerita pasti cinta yang benar-benar tulus sepertinya datang dari orang yang kita anggap tidak sempurna.”
“Maksud kamu?”
“Hmmm. Kamu pernah nonton film I am Sam, kan? Dan pasti juga masih ingat cerita ‘Malaikat Juga Tahu’ dibuku itu.” katanya sambil memandang buku yang sedang aku pegang, sebelum aku sempat berkomentar ia berkata lagi, “Dua kisah yang sedikit berbeda, tetapi punya makna yang serupa. Mereka yang kita anggap tidak ‘sempurna’, bisa memiliki ketulusan cinta yang begitu dalam, yang biasa kita cari pada orang yang ‘sempurna’, dan ketika kita mencari pada orang yang ‘sempurna’ sering kali yang kita dapati adalah kekecewaan.”
Ah, aku mengerti sekarang. Gadis dihadapanku ini memang sedang mengalami kekecewaan, ditinggalkan oleh kekasihnya yang telah memberi dia harapan begitu besar. Tetapi ternyata ujung perjalanan mereka, hanya ada torehan luka yang dalam bagi dia. Sudah hampir satu tahun, walau kini dia tampak lebih baik daripada awal-awal dia mengalami kekecewaan itu tapi aku tau, dia masih belum benar-benar bisa melupakan apa yang ia alami. Mungkin juga ia takkan bisa melupakannya, entahlah.
“Hmmm… mungkin benar apa yang kamu bilang, tapi bukan berarti kita akan selalu menemui kekecewaan seperti itu. Kadang mungkin orang yang ‘sempurna’ lebih mampu menutupi betapa tulus cinta yang ia punya.” Sebenarnya aku setuju dengan apa yang diucapkannya tetapi aku juga tak ingin ia begitu pesimis memandang cinta.
Kami kembali diam, seperti sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Entah apa yang ada dipikirannya, sedang aku sedikit berpikir bagaimana memberi ia optimisme tentang cinta, sedang kadang aku sendiripun merasa pesimis tentang mencari ketulusan itu. Apakah ada orang yang akan memberikan cintanya padaku, sebesar cinta yang aku berikan? Sedang kata orang, cinta yang tulus tidaklah mengharapkan balasan. Benarkah aku sendiri tak memiliki ketulusan cinta?
“Kamu pernah dengar? Orang buta kadang lebih bisa melihat segalanya daripada mereka yang bisa melihat. Karena mereka melihat dengan hati. Orang yang tuli kadang lebih bisa menerima segala hal dengan mudah, karena mereka bisa menyaring apa yang ingin mereka tahu tanpa harus peduli dengan omongan yang tidak baik. Orang bisu, mereka akan menjadi pendengar yang baik, dan melakukan segala hal tanpa banyak bicara dan lebih baik daripada kita yang kadang lebih banyak bicara daripada bertindak. Dan orang autis, mereka lebih memiliki ketulusan cinta walau mungkin mereka tak mampu mengungkapkannya secara terang-terangan. Apakah kita harus tidak sempurna untuk dapat menjadi lebih baik?”
Ini yang aku senang jika sedang berada didekatnya, kadang ia melontarkan pertanyaan atau pernyataan yang diluar dugaan, yang kadang tidak terpikirkan.
“Hmmm… mungkin bukan begitu bekerjanya. Mungkin itulah keistimewaan mereka. Membuat kita yang merasa ‘sempurna’ ini kembali melihat kesempurnaan kita. Benarkah kita ‘sempurna’? Kita akan menyadari bahwa tidak, kita tidak ‘sempurna’ walau kita terlihat ‘sempurna’ dibanding mereka. Itu lah istimewanya mereka, kita bisa belajar dari keistimewaan mereka.”
“Dan, tentang cinta…..” kali ini kalimatnya terasa begitu menggantung, entah ia ingin bertanya atau ingin memberikan satu lagi pernyataan.
Beberapa saat aku menunggunya melanjutkan kalimatnya, tetapi ia hanya diam.
“Tentang cinta, jika tentang cinta yang universal mungkin akan kita dapati banyak contoh cinta yang tulus. Ibu terhadap anaknya, itu satu kepastian. Tetapi tentang cinta sepasang anak manusia, aku hanya yakin, ALLAH pasti berikan kita pasangan yang akan mencintai kita dengan tulus.” Itu yang langsung terlintas dibenakku saat ia akhirnya memang hanya diam.
Aku mendengar helahan nafasnya yang panjang, sebelum akhirnya ia berucap, “Ya, dan kadang kita tak dapat melihat itu hanya karena cinta itu datang bukan dari orang yang kita inginkan, dan orang yang kita inginkan adalah orang yang telah mengecewakan kita.”
Sekali lagi aku hanya bisa terhenyak dengan kalimat terakhirnya. Karena ya, akupun pernah merasakannya. Banyak cinta yang ditawarkan, tetapi bukan itu yang dimau, hanya cinta satu orang yang aku mau, ia yang telah melukai aku tapi tak mampu menghapus rasa cintaku padanya.
Benarkah, kita terlalu sering melihat pintu yang tertutup hingga kita tak mampu melihat ada pintu lain yang terbuka untuk kita?
*** *** *** *** *** ***
Tentang giveaway "kita berbagi" ada yang minta untuk ditambahin waktunya.... dikasih nggak yaaaaaa.... #mikirtingkattinggi
Wednesday, April 20, 2011
Tong Sampah?
Beberapa waktu lalu, seorang temen tanya. "Kalau kamu buat cerita itu dari pengalaman pribadi kah? Kok kadang isinya ngena banget."
Mungkin ada sebagian cerita yang memang murni dari pengalaman pribadiku sendiri, tetapi juga ada beberapa cerita yang aku angkat dari sebuah percakapan atau curhatan beberapa sahabat.
Lantas temen aku tanya lagi, "apa enaknya jadi tong sampah gitu. nambah beban pikiran aja."
Hmmm... waktu dia bilang begitu sie, aku cuman bisa senyum. Dan akhirnya aku juga bertanya-tanya sendiri, apa enaknya jadi tong sampah?
Ah... menjadi seorang pendengar, itu memang kadang tidak mudah. Terlebih jika ternyata mood kita sedang tidak baik -_-" Tapi kadang, ketika hanya itu yang bisa kita lakukan untuk seseorang, secara tidak langsung itu membuat kita merasa, ah... ternyata kita berarti juga :)
Selain itu, pernah nggak saat teman kita cerita tentang masalahnya dan meminta pendapat kita, secara spontan kita memberikan pendapat kita, dan setelah dipikirkan kembali... ah... seharusnya kata-kata yang aku ucapkan tadi juga tepat mengenai sasaran diulu hatiku sendiri.
Ada satu hal lain yang kadang aku rasakan, yaitu ketika aku mendengarkan cerita seorang teman tentang masalahnya, entah itu masalah ringan atau berat, tetapi disatu titik aku mendapati... ah... ternyata aku nggak sendiri. Ada banyak orang lain yang ternyata bisa bernasib sama atau mungkin lebih parah dari aku.
Hal terakhir itu, kadang terlihat juga saat mempublish sebuah cerpen, dan kemudian ada yang berkomentar "persis seperti apa yang terjadi sama aku!" atau "aku juga sedang merasakannya"
Kadang ketika kita tertimpa sebuah masalah, kadang kita merasakan sendirian. Yup, terlebih jika berhubungan dengan kehilangan seseorang. Kita seakan tak dapat merasakan lagi kasih sayang yang banyak disodorkan oleh orang-orang disekeliling kita, hanya karena bukan itu yang kita cari.
Tapi dari semua yang ada, satu yang pasti kita sebenarnya tidak sendiri. Apa yang kita rasakan adalah hal yang wajar, yang bisa juga terjadi pada orang lain. Dan itu juga memberi kita pelajaran untuk tidak mengecilkan masalah yang mungkin diceritakan pada kita, karena kita tidak diposisi mereka dan mungkin saja kita akan lebih parah dari mereka ketika kita menghadapi masalah yang mungkin sama.
Kita tidak pernah sendiri, itu saja. Karena jika seakan tidak dapat lagi mampu merasakan kasih sayang yang ditawarkan untuk kita, ingat saja bahwa semua itu dari ALLAH yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita dan itu semua adalah kasih karuniaNya. ^^
Oia, give away "kita berbagi" waktunya semakin mepet loooooh :p Pengen diperpanjang, tp koooook gimana gitu :) Dari daftar yang masuk udah ada 10 pendaftar, apa dimenangin semua ya hihihi
Mungkin ada sebagian cerita yang memang murni dari pengalaman pribadiku sendiri, tetapi juga ada beberapa cerita yang aku angkat dari sebuah percakapan atau curhatan beberapa sahabat.
Lantas temen aku tanya lagi, "apa enaknya jadi tong sampah gitu. nambah beban pikiran aja."
Hmmm... waktu dia bilang begitu sie, aku cuman bisa senyum. Dan akhirnya aku juga bertanya-tanya sendiri, apa enaknya jadi tong sampah?
Ah... menjadi seorang pendengar, itu memang kadang tidak mudah. Terlebih jika ternyata mood kita sedang tidak baik -_-" Tapi kadang, ketika hanya itu yang bisa kita lakukan untuk seseorang, secara tidak langsung itu membuat kita merasa, ah... ternyata kita berarti juga :)
Selain itu, pernah nggak saat teman kita cerita tentang masalahnya dan meminta pendapat kita, secara spontan kita memberikan pendapat kita, dan setelah dipikirkan kembali... ah... seharusnya kata-kata yang aku ucapkan tadi juga tepat mengenai sasaran diulu hatiku sendiri.
Ada satu hal lain yang kadang aku rasakan, yaitu ketika aku mendengarkan cerita seorang teman tentang masalahnya, entah itu masalah ringan atau berat, tetapi disatu titik aku mendapati... ah... ternyata aku nggak sendiri. Ada banyak orang lain yang ternyata bisa bernasib sama atau mungkin lebih parah dari aku.
Hal terakhir itu, kadang terlihat juga saat mempublish sebuah cerpen, dan kemudian ada yang berkomentar "persis seperti apa yang terjadi sama aku!" atau "aku juga sedang merasakannya"
Kadang ketika kita tertimpa sebuah masalah, kadang kita merasakan sendirian. Yup, terlebih jika berhubungan dengan kehilangan seseorang. Kita seakan tak dapat merasakan lagi kasih sayang yang banyak disodorkan oleh orang-orang disekeliling kita, hanya karena bukan itu yang kita cari.
Tapi dari semua yang ada, satu yang pasti kita sebenarnya tidak sendiri. Apa yang kita rasakan adalah hal yang wajar, yang bisa juga terjadi pada orang lain. Dan itu juga memberi kita pelajaran untuk tidak mengecilkan masalah yang mungkin diceritakan pada kita, karena kita tidak diposisi mereka dan mungkin saja kita akan lebih parah dari mereka ketika kita menghadapi masalah yang mungkin sama.
Kita tidak pernah sendiri, itu saja. Karena jika seakan tidak dapat lagi mampu merasakan kasih sayang yang ditawarkan untuk kita, ingat saja bahwa semua itu dari ALLAH yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita dan itu semua adalah kasih karuniaNya. ^^
Oia, give away "kita berbagi" waktunya semakin mepet loooooh :p Pengen diperpanjang, tp koooook gimana gitu :) Dari daftar yang masuk udah ada 10 pendaftar, apa dimenangin semua ya hihihi
Subscribe to:
Posts (Atom)