Kamu menangis?
Aku langsung mengusap air yang mulai meleleh di pipiku dengan punggung tangan kiriku.
Kenapa? Sedih?
Sedih? Pertanyaan macam apa itu? Retorik?
Sudahlah, bukankah dia selalu menyakitimu?
Tapi... aku... aku masih mencintainya.
Tapi, dia mengkhianatimu? Itu artinya dia tak mencintaimu!
Tapi... dulu..., aku merasa bahagia bersamanya.
Semua orang bisa berubah, tak terkecuali dia.
Tapi... ia sempat berkata, lebih memilih aku daripada...
Sudahlah! Keputusanmu sudah tepat.
Tepat? Bagian mana?
Kamu pergi, meninggalkannya.
Kamu salah?
Salah? Bagian mana?
Dia yang pergi meninggalkanku.
Sebentar... kita reka ulang secara singkat... Dia mengkhianatimu, dan ketahuan. Kemudian kamu meminta mengakhiri hubungan, dia berkata lebih memilihmu. Dan kamu tetap pergi kan? Tetap putus?
Ya, tapi...
Perlahan aku menyodorkan tangan kananku yang masih erat menggenggam pisau berlumuran darah itu. Darah (mantan) kekasihku.
... dia yang pergi meninggalkan aku.
woohh..:s pembunuhan.
ReplyDeletewah, nggak nyangka endingnya jadi killer :)
ReplyDeleteSalam mba inge, kangen sm teman" Blogger nih, kangen juga sam rumah mu,... untuk sekedar membaca kembali tulisan" lama.
ReplyDeletenice wrote :) salam
waduh kenapa endingnya pakai pisau dan darah segala. horor ending nih
ReplyDelete