Ngaca!
"Nah, wong model ngunu sing digoleki karo si D"
Ngaca!
Sekarang udah tahun 2023, aku memiliki blog lain selain blog ini. noninge(dot)com. Blog ini tetap ada, yang awalnya sudah tidak berniat menulis lagi di blog ini tapi kemudian kok pingin lagiiii. Hehehe, sifat mbulet dari dulu tidak hilang juga rupanya ya.
Coba buka blog ini lagi.
Banyak kenangan di sini.
Rindu, menuliskan segala apa yang ada di kepala tanpa memikirkan akan efek apa nantinya tercipta.
Semakin lesini, entah mengapa sudah tak lagi mudah mencurahkan segala-gala secara spontan. :)
Dulu...
Banyak hal telah dilakukan
Banyak kenangan telah diciptakan
Ya... kenangan...
Kemudian,
Waktu berjalan...
Dan ternyata, semua tak lagi dapat terulang...
Hanya dikenang...
Rinduuuuu...
;)
Akhir ini sepertinya semakin banyak orang pintar... Benar nggak?
Semakin banyak orang yang berani... semakin banyak orang yang terbuka...
Mereka, yang begitu pintar hingga akhirnya bisa membodoh-bodohkan orang lain...
Mereka, yang begitu berani menyebut orang lain sebagai seorang pendosa...
Mereka, yang begitu terbuka mengatakan semua yang ada dalam pikiran dan hatinya...
Hanya karena orang lain tak sejalan dengan pemikiran mereka...
Hanya karena orang lain tak sejalan dengan keyakinan mereka...
Hanya karena sekarang kebebasan itu seakan tak lagi ada batas... :(
Sesuatu yang berlebihan bukankah tidak baik??
Saya suka membaca dan juga suka nonton film.
Dulu saat masih sekolah saya lebih banyak membaca daripada nonton film. Sejak dari SD saya sudah suka membaca, walau mungkin bacaan saya sebatas tabloid Bobo dan Donald Bebek. Papi saya dulu memperbolehkan saya langganan Bobo yang difasilitasi oleh sekolah, sedangkan Donal Bebek saya selalu dibelikan oleh kakak-kakak sepupu.
Waktu SD sampai dengan SMA sekolah saya seminggu sekali pasti ada jam pelajaran yang mengharuskan muridnya ke perpustakaan. Jadilah waktu sekolah walau belum memiliki koleksi bacaan tetapi tak pernah kehabisan bahan baca.
Memasuki masa kuliah, kebiasaan baca mulai berkurang. Perpustakaan kampus tentu beda dengan perpustakaan sekolah, sepertinya tidak menyediakan novel ya... hehe... itu salah satu alasannya. Saat kuliahlah saya lebih banyak nonton film daripada baca buku. Tapi juga saat kuliah itulah saya mulai koleksi buku, karena saya mulai bekerja sebagai guru les.
Jelang akhir masa kuliah bisa dibilang kegiatan baca dan nonton nyaris seimbang. Dan itu terus berlanjut sampai saya menikah. Kemudian saat anak pertama saya lahir nah, saat itulah saya mulai lebih banyak membaca daripada nonton film.
Hingga akhir-akhir ini, saat anak-anak mulai besar. Tidur malam mulai teratur, nah saat itulah saya bisa meluangkan waktu untuk nonton film. Karena saya tipenya orang yang nggak suka kalau nonton film kepotong-potong, kecuali film serial ya. Hehe
Kamu? Suka baca atau nonton?
Rebutan, mungkin itu hal yang biasa ya kalau lihat anak kecil melakukannya. Tapi saya, berusaha ajari anak-anak untuk tidak merebut.
Kadang saya suka dongkol sendiri misal ada anak yang sukanya ngerebut apa saja yang dipegang anak lain, dan lebih dongkol lagi kalau orang tua tuh anak tau eh tapi diem aja.
Dulu, sebelum usianya masuk 2 tahun, Ziandra kalau mainannya direbut oleh anak lain dia bisa dikatakan mengalah. Tapi semakin bertambah usianya Ziandra mulai mempertahankan apa yang dia pegang, walau sampai sekarang pun masih sering ngalah apalagi kalau yang ngambil anak yang dia gak kenal. Nah, itu ngalah apa takut?
Kalau di rumah, Ziandra bisa rebutan sama adiknya. Kalau adiknya ngerebut mainannya dia pasti akan mempertahankan. Begitu juga kalo dirumah uti dan ada ponakan yang suka ngerebut barang yang dipegang Ziandra, dia akan mempertahankan.
Jadi bisa dikatakan dia masih takut mempertahankan barang miliknya kalau yang ngerebut anak yang dia rasa nggak dia kenal.
Dulu, saya mungkin akan turun tangan walau nggak ekstrim ngerebut mainan yang tadinya dipegang Ziandra. Saya cuman datengin Ziandra dan bilang "nggak apa-apa mba'/mas nya pinjam, gantian ya". Dan yang ada Ziandra jadi noleh ke saya kalo misal mainannya direbut.
Akhir-akhir ini, saya mulai membiarkan Ziandra "mengatasi" sendiri masalahnya. Akhirnya sekarang Ziandra mulai berani mempertahankan miliknya, dia mulai berani merebut kalau mainannya direbut.
Terus jadinya rebutan donk. Yup! Dan itu aku diamkan, selama Ziandra berusaha mempertahankan miliknya. Bukan dia merebut mainan yang awalnya bukan dia pegang.
Jadi, mungkin sekarang saya berterima kasih sama anak yang suka ngerebut #laaah. Karena dengan adanya mereka Ziandra jadi belajar mempertahankan miliknya, dan dari mereka bisa kasih contoh kalau merebut itu nggak baik. :D
Ngajari bertahan, gantian/ngalah, dan berbagi. Semoga nantinya Ziandra bisa memilah mana saat dia harus mempertahankan miliknya, mana saat dia harus ngalah. :)
Apa sulitnya sih minta maaf?
Mungkin ada yang pernah dengar pertanyaan seperti itu, atau bahkan mengajukannya?
Atau ada yang mengajukan jawaban seperti ini :
Nggak salah kok, kenapa harus minta maaf?
Hal menarik tentang minta maaf saya dapat dari anak-anak, Ziandra dan Zianka.
Sebelum Zianka lahir, dengan jarak yang bisa dibilang cukup dekat dengan Ziandra... sudah banyak yang wanti-wanti "harus adil mak." Dan adil itu memang tidak mudah, terlebih terhadap anak kecil.
Lalu apa hubungannya adil dengan meminta maaf?
Saat Ziandra & Zianka bermain, pasti ada saatnya (lebih tepatnya sering) mereka nggak akur. Berebut mainan!
Kalau mainannya ada dua, bisa dilerai dengan mudah. Tapi selain hambur-hambur uang buat beli dua mainan, menurut saya itu nggak baik buat anak-anak. Mereka jadi gak belajar berbagi dan mengalah. Menurut saya loh yaaaaa...
Nah disini susahnya adil, kadang merasa adiknya nih masih terlalu kecil untuk mengerti berbagi atau mungkin banyak yang berpendapat : yang besar harus ngalah. Tapi Ziandra kan belum se"besar" itu.
Jadi kalau rebutan, akhirnya dilihat dulu siapa yang pegang mainan pertama kali, karena nggak menutup kemungkinan adik yang ngerebut mainan yang dipegang mas.
Nah kadang pas emaknya ini meleng, jadi gak tau siapa yang pegang pertama. Jadi diliatin aja dua anak itu rebutan, dan kalau mas gak terima terus "mukul" adek, baru nih emaknya bertindak. Ambil mainan yang direbutin terus minta mas minta maaf ke adik.
Kadang, mas dengan suka rela minta maaf. Tapi kadang dia seperti enggan. Nah dari situ bisa keliatan kok kalo kemungkinan besar adiknyalah yang merebut. Emaknya harus jelasin kenapa mas harus minta maaf. Mungkin Ziandra belum bener-bener ngerti, tapi setidaknya dia bisa belajar, sedikit demi sedikit.
Buat anak kecil sepertinya meminta maaf itu adalah ketika mereka melakukan kesalahan yang disengaja. Kalo nggak sengaja?
Sekarang emaknya yang masih tahap ngajarin buat minta maaf, walau mungkin nggak melakukan kesalahan. :D
Mungkin anda pernah mendengar kalimat ini : Bahwa lawan dari cinta bukanlah benci, tetapi tidak peduli.
Beberapa hari ini saya memikirkan kalimat itu. Tidak peduli = tidak cinta.
Kenapa saya memikirkan kalimat itu?
Karena akhirnya saya memutuskan untuk tidak peduli.
Ah, daripada bingung saya coba ceritakan secara singkatnya bagaimana akhirnya saya memutuskan untuk tidak peduli.
Seorang saudara, beberapa waktu lalu baru saja melahirkan seorang bayi perempuan lucu. Bahkan ada yang bilang wajah bayi itu mirip anak saya yang ragil. :)
Proses melahirkannya (dari cerita saudara saya itu) bisa dikatakan tidak mudah, njelimet. Tapi, Alhamdulillah bisa melahirkan dengan selamat walau melalui operasi.
Saya dan suami serta anak-anak baru sempat berkunjung hari ke 2 saat dirawat di RS, dan saat berkunjung itulah saya tahu adek bayi diberi minum susu formula.
Yang melintas dipikiran saya saat itu, ah... "kenapa nggak bilang, kan bisa aku perahkan asiku... biar adek gak perlu sampai minum sufor." Tapi kemudian, sodara saya bilang kalau ASInya belum keluar tapi pihak rumah sakit sangat PRO ASI. Ah, saya pikir mungkin besok sudah bisa ASI. Jadi saya hanya diam saja.
Selang 2 hari setelah kunjungan saya itu akhirnya mereka bisa pulang, kerumah mertua saya, yang jaraknya hanya 1 blok dari rumah. Waktu itu kami sekeluarga langsung ke rumah mertua, dan betapa kagetnya saya saat mengetahui ternyata adek bayi masih minum sufor.
Saya tidak banyak berkomentar dan bertanya, dan cerita mengalir begitu saja dari saudara saya itu. Dengan santai dia bercerita kalau setiap bidan periksa selalu bilang, "Ayo Bu, ASI ASI" tetapi saudara saya memutuskan untuk baru memulai memberikan ASI di rumah saja. Saya hanya bisa tersenyum, miris.
Tapi apa hubungannya dengan ketidakpedulian saya?
Awalnya saya terus memberi semangat saudara saya untuk ASI. Saya sempat dimintai tolong untuk memandikan bayinya selama beberapa hari, ah saya pikir itu juga bisa jadi jalan saya memberi dia semangat untuk memberi ASI anaknya. Tetapi yang terjadi sungguh membuat saya kecewa.
Setiap saya menyodorkan adek bayi untuk disusui si ibu terkesan menolak, dengan alasan mau mandi dulu atau apalah.
Mungkin saya memang gak berhak menilai usaha saudara saya itu kurang, karena saya tidak tinggal serumah dengannya.
Tetapi hal yang membuat saya akhirnya benar-benar nggak mau peduli lagi adalah saat terakhir saya menengok adek bayi dan waktu itu dia tengah minum sufor. Saya spontan bilang "Loooh ngempeng." Dan secara tak sengaja saya melihat mertua dan saudara saya itu saling lihat dan dari tatapan mereka saya seperti "mendengar" : wes mulai lagi wes bahas asi.
Mungkin itu hanya perasaan saya, tapi jujur perasaan saya saat melihat tatapan itu nggak enak banget.
Dan saya bilang pada tentang apa yang saya pikirkan, benarkah saya sudah tidak peduli? Membiarkan adik bayi tidak mendapatkan haknya menerima ASI?
Suami saya hanya bilang : sudah lah... percuma memang mau bantu kalau yang mau dibantu menolak. Doakan saja. Itu bentuk kepedulian kita.
Kamu pergi, dan aku... masih di sini. Menanti? Tidak, aku tau semua akan berakhir sia-sia jika aku menantimu.
Tapi, tetap aku masih di sini. Entah untuk apa.
Aku seakan tak dapat lagi merasakan cinta. Semua hanya mengikuti putaran waktu. Setiap detik yang menjadi menit, berganti jam... hari... bulan... tahun... Entah sampai kapan.
Orang bilang, aku hanya belum menemukan pengganti dirimu.
Tapi bisakah aku menemukan pengganti dirimu jika aku tak lagi dapat merasakan cinta?
Apakah cintaku masih untukmu? Tidak... sudah kubilang... aku tak lagi dapat merasakan cinta.
Bodoh.
Satu kata ketika aku menelusuri perjalananku yang dulu pernah bersinggungan denganmu.
Kita berkenalan, ngobrol, kemudian jadian. LDR. Kemudian kamu menghilang, aku? Menunggu, walau sempat juga mencari penggantimu.
Selang beberapa tahun, kamu datang lagi. Ketika aku tengah sendiri, ngobrol, kemudian jadian (lagi). (Tetap) LDR. Selanjutnya, kamu pergi (lagi, walau kali ini sempat berpamitan sebelum akhirnya menghilang). Aku? Tetap menunggu hingga lelah, dan akhirnya mencari pengganti dirimu. Apa aku sudah benar-benar melupakanmu?
Selang beberapa tahun, kamu hadir kembali. Saat aku tak lagi sendiri, tapi kita tetap ngobrol, terkadang layaknya orang pacaran. Selingkuh? Mungkin. Hingga akhirnya, aku memilihmu. Selanjutnya? Kamu pergi (lagi), menghilang (lagi).
Maka aku sebut diriku bodoh, cintakah? Entah, yang pasti aku bodoh.
Bodoh, percaya pada kata "aku mencintaimu dan tak akan meninggalkanmu lagi".
Bodoh, percaya pada kata "kalau jodoh nggak akan kemana".
Bodoh.